Karakteristik Ibu Hamil dengan Preeklamsia Berat
Kata Kunci:
Preekalamsi , ibu hamil, kesehatan ibu dan anakAbstrak
Kesehatan ibu merupakan indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat suatu negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preeklampsia berat terjadi pada 6,6% ibu hamil, dengan beberapa faktor risiko utama. Ibu dengan usia <20 tahun atau >35 tahun lebih rentan mengalami preeklampsia karena perubahan fisiologis yang mempengaruhi tekanan darah dan plasenta. Pendidikan rendah juga berkontribusi, karena keterbatasan akses informasi kesehatan dan keterlambatan deteksi dini. Sebagian besar ibu dengan preeklampsia tidak bekerja, yang dapat memengaruhi akses layanan kesehatan. Kehamilan yang tidak aterm (<37 atau >40 minggu) meningkatkan risiko preeklampsia akibat gangguan perkembangan plasenta. Dari segi paritas, ibu yang belum pernah melahirkan (nulipara) dan yang telah melahirkan ≥4 kali (grandemultipara) lebih berisiko karena faktor adaptasi imunologi dan elastisitas pembuluh darah. Selain itu, kehamilan ganda (gemeli) meningkatkan risiko akibat beban kardiovaskular yang lebih tinggi.
Unduhan
Referensi
American College of Obstetricians and Gynecologists. (2020). Hypertension in pregnancy: Executive summary.
Goldenberg, R. L., Culhane, J. F., Iams, J. D., & Romero, R. (2018). Epidemiology and causes of preterm birth. The Lancet.
Jeyabalan, A. (2021). Epidemiology of preeclampsia: Impact of parity. Obstetrics & Gynecology.
Rasmussen, S., & Irgens, L. M. (2021). Pre-eclampsia and twin pregnancies: Risks and outcomes. International Journal of Obstetrics.
Roberts, J. M., & Gammill, H. S. (2020). Preeclampsia: Recent insights. Hypertension in Pregnancy.
Sibai, B. M. (2019). Diagnosis and management of preeclampsia. American Journal of Obstetrics and Gynecology.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2012). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012. Jakarta: BPS. Diakses dari https://www.bps.go.id
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Profil Kesehatan Indonesia 2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Diakses dari https://www.depkes.go.id
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Laporan Kesehatan Ibu dan Anak 2014. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Diakses dari https://www.depkes.go.id
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. (2015). Laporan Kesehatan Ibu di Jawa Barat. Bandung: Dinkes Jabar. Diakses dari https://dinkes.jabarprov.go.id
Fadlun, M. (2012). Preeklamsia dan Eklampsia sebagai Penyebab Kematian Maternal. Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak, 5(2), 102-110.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kenali Tanda Bahaya Preeklampsia. Jakarta: Kemenkes RI. Diakses dari https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2655/kenali-tanda-bahaya-preeklampsia
Prawirohardjo, S. (2011). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Rozikhan. (2007). Preeklamsia dan Eklampsia: Patofisiologi dan Penanganannya. Jurnal Obstetri & Ginekologi, 12(1), 45-52.
Rumah Sakit Umum Daerah Menggala. (2015). Laporan Tahunan Kesehatan Ibu dan Anak 2015. Bekasi: RSUD Bekasi. Diakses dari https://rsud.bekasikota.go.id
World Health Organization (WHO). (2021). Maternal Mortality and Pre-eclampsia: Global Perspective. Geneva: WHO. Diakses dari https://www.who.int
WHO. (2021). Maternal health and preeclampsia prevention strategies.





